Beranda Artikel Solidaritas Antar-Perempuan vs Budaya Saling Menja...
Solidaritas Antar-Perempuan vs Budaya Saling Menjatuhkan

Solidaritas Antar-Perempuan vs Budaya Saling Menjatuhkan

Aqiela fauziyah 01 October 2026
Ringkasan

Sering kali perempuan diadu domba oleh standar patriarki (contoh : perbandingan soal karier vs. ibu rumah tangga). Sudut Pandang, gerakan women support women harus diwujudkan secara nyata dengan menghormati pilihan hidup setiap individu baik perempuan yang memilih fokus di ranah domestik maupun publik, tanpa saling menghakimi.

Sering kali perempuan diadu domba oleh standar patriarki (contoh : perbandingan soal karier vs. ibu rumah tangga). Sudut Pandang, gerakan women support women harus diwujudkan secara nyata dengan menghormati pilihan hidup setiap individu baik perempuan yang memilih fokus di ranah domestik maupun publik, tanpa saling menghakimi.

Budaya saling menjatuhkan (internalized misogyny) sering muncul ketika perempuan merasa ruang untuk sukses atau diakui sangat terbatas seolah-olah hanya ada satu "kursi khusus" bagi perempuan di meja kekuasaan atau masyarakat. Akibatnya, alih-alih menantang sistem yang membatasi, perempuan justru saling mengkritik pilihan hidup sesamanya.

Seorang ibu rumah tangga dipandang sebelah mata sebagai perempuan yang tidak produktif atau tertinggal secara intelektual. Sebaliknya, perempuan berkarier sering dihina karena dianggap mengabaikan kodrat atau keluarga.

Kedua pandangan ini sama-sama meracuni makna keperempuanan. Padahal, esensi dari kebebasan memilih adalah memberikan ruang bagi setiap perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa rasa bersalah.

Dalam narasi sosial hari ini, frasa “women support women” (perempuan mendukung perempuan) seolah menjadi mantra wajib di berbagai ruang publik maupun media sosial. Namun, di balik ramainya seruan tersebut, kenyataan di lapangan sering kali jauh panggang dari api. Alih-alih saling merangkul, perempuan justru sering terperangkap dalam lingkaran budaya saling menjatuhkan. Ironisnya, permusuhan terselubung ini bukanlah lahir dari ruang hampa, melainkan diciptakan dan dipelihara oleh standar patriarki yang sejak lama mengadu domba perempuan.

Budaya saling menjatuhkan tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh subur ketika perempuan diyakinkan bahwa ruang untuk sukses, diakui, atau didengar sangatlah terbatas seolah-olah masyarakat hanya menyediakan satu "kursi khusus" bagi perempuan di meja kekuasaan, kesuksesan, atau ruang publik. Akibat mentalitas kelangkaan ini, perempuan merasa harus saling bersaing demi mendapatkan validasi yang sempit. Alih-alih menantang sistem struktural yang membatasi ruang gerak mereka dari awal, perempuan justru terjebak dalam posisi saling mengawasi, saling menghakimi, dan saling mengkritik pilihan hidup sesamanya.

Bentuk paling nyata dari adu domba ini terlihat dalam perdebatan abadi yang menempatkan dua pilihan hidup perempuan dalam posisi yang saling berseberangan. Di satu sisi, seorang ibu rumah tangga penuh waktu kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat modern. Ia sering distigmatisasi sebagai perempuan yang tidak produktif, tertinggal secara intelektual, atau sekadar bergantung sepenuhnya secara finansial.

Di sisi lain, perempuan yang memilih untuk berkarier di ranah publik sering kali dihantam oleh rasa bersalah yang diciptakan sosial (guilt-tripping). Mereka dituduh "mengabaikan kodrat", menjadi ibu yang egois, atau gagal mengurus keluarga.

Kedua sudut pandang ini sama sekali tidak membebaskan keduanya dan sama-sama meracuni makna keperempuanan. Keduanya memenjarakan perempuan dalam kotak-kotak kaku ciptaan orang lain, seolah nilai seorang manusia diukur dari seberapa patuh ia pada standar moral yang terus berubah-ubah.

Hubungi Kami